RajaKomen

Skandal Kontroversi Seorang Ray Blanton, Gubernur Terbodoh dari Tennessee

18 Des 2023  |  93xDitulis oleh : Admin
Gubernur Terbodoh

Mendapat kesempatan untuk memimpin suatu wilayah tidak jarang membuat seseorang lupa dan menggunakan jabatannya tersebut untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Hal ini juga dilakukan oleh gubernur negara bagian Tennessee, Amerika Serikat. Sebagai akibat, gubernur yang menjabat, yaitu Ray Blanton disebut sebagai gubernur terbodoh.

Tindakan yang dilakukan oleh Blanton dinilai oleh banyak pihak sangat keterlaluan karena tidak hanya sekali memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Bahkan beberapa staf yang bekerja di negara bagian tersebut harus menanggung resiko akibat dari arogansi gubernur mereka. Di akhir jabatannya, Blanton pun harus mempertanggungjawabkan tindakannya tersebut 

TINDAKAN BODOH GUBERNUR TENNESSEE

Gubernur Ray Blanton diketahui telah merugikan negara bagian Amerika Serikat tersebut berkali-kali selama memimpin Tennessee. Perbuatan yang menguntungkan dirinya dan pihak yang mendukung, termasuk teman berkaitan dengan keuangan dan kebijakan yang dilakukan.

Kenaikan gaji kontroversial

Pada masa memimpin Tennessee, Blanton telah menaikkan gajinya sendiri dengan jumlah yang fantastik, yaitu mencapai 20.000 dollar. Blanton juga sering mengajak temannya untuk melakukan berbagai aktivitas dengan menggunakan anggaran negara.

Mulai dari tagihan bar, telepon pribadi sampai bayar sewa limousine untuk Blanton dan teman-temannya semua menggunakan uang negara. Namun setelah melalui tahap pengusutan dari lembaga yang berwenang, pengeluaran tersebut kemudian diganti dengan dana pribadi. 

Proyek keluarga

Blanton berasal dari keluarga yang mempunyai usaha sebagai kontraktor. Semasa menjabat sebagai gubernur, beberapa kali Blanton sengaja memberikan proyek jalan, seperti pengaspalan kepada keluarganya tersebut.

Meski telah membuat pernyataan bahwa perusahaan keluarga tersebut tidak berbisnis dengan memanfaatkan jabatan Blanton namun pada kenyataannya banyak proyek yang dibuka dan dikerjakan. Hal ini tentu membuat banyak pro dan kontra yang ditujukan kepada kepala negara bagian tersebut. 

Terlibat dalam kasus mobil surplus

Pada masa kepemimpinan Blanton sempat terjadi gejolak karena banyak mobil negara yang dijual kepada sekutu politik. Beberapa petinggi yang terkait dengan pengadaan mobil negara akhirnya mengundurkan diri setelah terbukti bersalah.

Tindakan Blanton yang berkaitan dengan skandal mobil ini sangat merugikan negara. Beberapa petinggi diadili karena dinilai terlibat. 

Memecat ketua Dewan Pengampunan dan Pembebasan negara

Blanton dikenal dekat dengan banyak narapidana kelas kakap yang saat itu mendekam di penjara pemerintah Tennessee. Tindakan gubernur terbodoh tersebut adalah memanfaatkan jabatan untuk mengeluarkan kenalan dan kolega yang saat itu menjalani masa tahanan. Sedangkan bagi pejabat yang tidak mau diajak bekerja sama, akan dipecat oleh Blanton. 

Salah satunya adalah Marie Ragghianti yang menolak untuk membebaskan tahanan dengan kasus suap. Blanton juga membantu tindakan-tindakan yang melanggar hukum, seperti kasus suap. Aksi Blanton terbongkar berdasarkan temuan dari FBI. 

Memberi Pengampunan tanpa Dasar

Tindakan Blanton yang lain dengan menggunakan kekuasaan adalah memberikan pengampunan terhadap narapidana tanpa dasar di akhir masa jabatannya. Sebanyak 52 tahanan dibebaskan, termasuk pembunuh yang sudah divonis sebelumnya. Salah satu orang yang mendapat pengampunan dari kasus pembunuhan adalah Roger Humphreys, anak pendukung Blanton. 

Tindakan-tindakan penyalahgunaan kewenangan ini tidak hanya membuat jengkel pihak yang bersinggungan, seperti pejabat yang dipaksa mengikuti kemauannya, tetapi juga memicu kekacauan di negara bagian tersebut. 

Atas tindakan yang dilakukan oleh Blanton tersebut, gubernur ini mendapat sebutan sebagai gubernur terbodoh karena menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, keluarga, teman dan kenalannya. Di akhir masa jabatannya, Blanton harus menjalani hukuman sebagai konsekuensi dari tindakannya dalam penyalahgunaan jabatan. 

Baca Juga: